you're reading...
Forensic Accounting & Audit Investigatif

Mengapa Perlu Akuntansi Forensik?

Akuntansi forensic akhir-akhir ini menjadi topik hangat yang dibicarakan. Mengapa jenis akuntansi ini diperlukan? Tidak lain karena adanya potensi fraud maupun yang benar-benar fraud mempunyai daya hancur yang luar biasa dan mampu menghancurkan pemerintahan, bisnis, pendidikan, departemen maupun sector-sector lain. Fraud sendiri bisa diartikan sebagai penyimpangan atau kecurangan yang dilakukan dalam lembaga atau organisasi.Fraud dalam bahasan berikut lebih difokuskan pada tindakan korupsi.

Akuntan forensic berfungsi mengamati dan memahami gejala fraud secara makro pada tingkat perekonomian negara.

Fraud jika dikaitkan dengan lemahnya corporate governance, bisa terjadi baik di sector public maupun disektor privat. Dampaknya jika fraud terjadi disektor korporasi yaitu harga saham dari korporasi yang bersangkutan lebih rendah dari harga pasar. Hal tersebut akan mempengaruhi penilaian investor pada saat menentukan keputusan. Tidak jarang para investor mau membayar saham dengan harga premium jika perusahaan diindikasikan mau memperbaiki kelemahan corporate governancenya. Sedangkan dampak yang terjadi di sector pemerintahan apabila terdapat fraud adalah terganggunya pelaksanaan penyelanggaraan negara. Apalagi bila tidak ditunjang dengan penegakan bidang hukum yang kuat, standar akuntansi maupun lain-lain maka tingkat korupsi dan kelemahan dalam penyelanggaraan negara akan meningkat.

Corruption Perception Index (CPI) adalah Index persepsi korupsi di suatu negara. Indeks ini adalah merupakan Index gabungan (composite index)  dari data  korupsi. Korupsi yang dimaksudkan disini adalah penyalahgunaan jabatan oleh Pegawai Negeri Sipil dan  politisi untuk kepentingan pribadi, penyuapan dalam pengadaan barang dan jasa. Dalam CPI skor lebih penting dari peringkat, karena penentuan peringkat berdasarkan jumlah negara yang disurvei. Skor CPI tidak mudah diubah karena menggunakan rata-rata bergerak tiga tahun terakhir terkhir, sehingga jika presiden suatu negara masa pemerintahannya lima tahun maka penilaian CPInya tercermin secara untuk penghujung tahun ketiga, keempat dan kelima. CPI menggunakan istilah expert survey atau survey para ahli dan bukan persepsi orang banyak, karena expert survey dipandang bisa membedakan kadar korupsi dan dianggap memiliki posisi yang lebih baik untuk memberikan pandangan dibandinkan dengan orang banyak. Semakin rendah skor semakin tidak baik dan menurut CPI, Indonesia berada pada peringkat 111 dengan skor 2,8.

Global Corruption Baromater pada dasarnya adalah memahami bagaimana dan dengan cara apa korupsi mempengaruhi hidup orang banyak, bagaimana indikasi bentuk serta luasnya korupsi dari sudut pandang anggota masyarakat diseluruh dunia. Pengukuran dilakukan oleh Gallup International atas nama Transperancy International (TI). GCB bermanfaa untuk  membantu pemberantasan korupsi dan penyuapan. Sektor terkoru di Indonesia yang paling tinggi adalah kepolisian, diikuti dengan legislatif, pengadilan, partai poitik, pelayanan perijinan, otoritas pajak, utilitas, sector bisnis atau swasta, militer, sistem pendidikan, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, pelayanan kesehatab, media, dan departemen atau lembaga keagamaan.

Bribe Payer Index (BPI) dilakukan dengan cara wawancara dengan para eksekutif bisnis senior di 26 negara. Dasar pemilihan negara responden adalah  aliran foreign direct investment dan arus impor serta peranan mereka dalam perdagangan regional. Indeks ini bertujuan untuk melihat berapa besar kemungkinan perusahaan asing melakukan penyuapan saat transaksi di negara tempat beroperasi. Berdasarkan hasil survai ternyata tidak ada yang negara yang punya skor 9 atau 10 yang artinya  negara yang paling kuat ekonominya sedikit banyaknya mengekspor korupsi.

Terkait dengan korupsi dan iklim investasi menurut kajian Political and Economic Risk Consultancy, Ltd. (PRC)  adalah betujuan menilai risiko politik dan ekonomi suatu negara. Salah satu kajian PERC menunjukkan tingkat korupsi menurut persepsi eksekutif asing di negara tertentu. Hasil survey dapat digunakan sebagai referensi pebisnis yang akan menanamkan modalnya dinegara bersangkutan. Beradarkan survey atas Iklim investasi 2009, Singapura terbersih (1,07) dari korupsi sedangkan  Indonesia terkorup (8,32) dari 16 negara  di Asia.

Global Competitive Index adalah melihat tingkat kemampuan bersaing suatu negara yang mencerminkan sampai seberapa jauh  negara dapat memberikan kemakmuran pada warga negaranya. Menurut survai GCI, Indonesia Peringkat 55 dari 134 negara.

Timbul pertanyaan apakah kajian mengenai korupsi bermanfaat? Tanggapannya adalah Bermanfaat karena mencerminkan kesan /persepsi tentang praktik korupsi. Kajian ini juga mencerminkan kenyataan yang dapat digunakan untuk membantu penangkapan dan penyidikan oleh KPK dan kejaksaan, proses penyidangan. Kajian ini juga bermanfaat secara makro karena dapat mengindikasikan apakah janji-janji kampanye sudah terealisasi.

Survei integritas yang dilakukan KPK bertujuan:

  1. Menelusuri akar permasalahan korupsi di sektor pelayanan publik
  2. Mengubah perspektif layanan dari orientasi lembaga penyedia layanan publik atau petugasnya (sisi penawaran) ke perspektif pelanggan (sisi permintaan)
  3. Mendorong lembaga publik menyiapkan upaya pencegahan korupsi yang efektif si wilayah dan layanan yang rentan terjadinya korupsi

Hasil survey menunjukkan bahwa:

  1. Rata-rata skor integritas integritas sektor publik dari 30 dept atau instansi tingkat pusat 5,33à rendah dibanding negara lain
  2. 11 Dept skor dibawah rata-rata
  3. Petugas pelayanan publik masih berperilaku koruptif
  4. Tidak ada transparansi & informasi yang jelas terkait dengan biaya dan waktu yang dibutuhkan dalam penurusan layanan
  5. Masyarakat pengguna layanan sektor publik masih toleran terhadap perilaku koruptif.

About yuniartihidayah

Monash University, Australia, PPAK UB Interests: Listening to music, reading, traveling, eating delicious food, and networking

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: