you're reading...
Auditing

Case Study D3-Bank: Kasus Pembobolan Bank

Wajib bagi mahasiswa D3-Perbankan

Inilah 9 Kasus Pembobolan Bank

Tribun Jambi – Selasa, 3 Mei 2011 14:00 WIB

JAKARTA, TRIBUNJAMBI.COM — Strategic Indonesia mencatat, dalam kuartal I 2011 telah terjadi sembilan kasus pembobolan bank di berbagai industri perbankan.

Jos Luhukay, pengamat Perbankan Strategic Indonesia, mengatakan, modus kejahatan perbankan bukan hanya soal penipuan (fraud), tetapi lemahnya pengawasan internal control bank terhadap sumber daya manusia juga menjadi titik celah kejahatan perbankan. “Internal control menjadi masalah utama perbankan. Bank Indonesia harus mengatur standard operating procedure (SOP),” kata Jos Luhukay, Senin (2/5/2011).

Berikut adalah sembilan kasus perbankan pada kuartal pertama yang dihimpun oleh Strategic Indonesia melalui Badan Reserse Kriminal Mabes Polri:

1. Pembobolan Kantor Kas Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tamini Square. Melibatkan supervisor kantor kas tersebut dibantu empat tersangka dari luar bank. Modusnya, membuka rekening atas nama tersangka di luar bank. Uang ditransfer ke rekening tersebut sebesar 6 juta dollar AS. Kemudian uang ditukar dengan dollar hitam (dollar AS palsu berwarna hitam) menjadi 60 juta dollar AS.

2. Pemberian kredit dengan dokumen dan jaminan fiktif pada Bank Internasional Indonesia (BII) pada 31 Januari 2011. Melibatkan account officer BII Cabang Pangeran Jayakarta. Total kerugian Rp 3,6 miliar.

3. Pencairan deposito dan melarikan pembobolan tabungan nasabah Bank Mandiri. Melibatkan lima tersangka, salah satunya customer service bank tersebut. Modusnya memalsukan tanda tangan di slip penarikan, kemudian ditransfer ke rekening tersangka. Kasus yang dilaporkan 1 Februari 2011, dengan nilai kerugian Rp 18 miliar.

4. Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Margonda Depok. Tersangka seorang wakil pimpinan BNI cabang tersebut. Modusnya, tersangka mengirim berita teleks palsu berisi perintah memindahkan slip surat keputusan kredit dengan membuka rekening peminjaman modal kerja.

5. Pencairan deposito Rp 6 miliar milik nasabah oleh pengurus BPR tanpa sepengetahuan pemiliknya di BPR Pundi Artha Sejahtera, Bekasi, Jawa Barat. Pada saat jatuh tempo deposito itu tidak ada dana. Kasus ini melibatkan Direktur Utama BPR, dua komisaris, komisaris utama, dan seorang pelaku dari luar bank.

6. Pada 9 Maret terjadi pada Bank Danamon. Modusnya head teller Bank Danamon Cabang Menara Bank Danamon menarik uang kas nasabah berulang-ulang sebesar Rp 1,9 miliar dan 110.000 dollar AS.

7. Penggelapan dana nasabah yang dilakukan Kepala Operasi Panin Bank Cabang Metro Sunter dengan mengalirkan dana ke rekening pribadi. Kerugian bank Rp 2,5 miliar.

8. Pembobolan uang nasabah prioritas Citibank Landmark senilai Rp 16,63 miliar yang dilakukan senior relationship manager (RM) bank tersebut. Inong Malinda Dee, selaku RM, menarik dana nasabah tanpa sepengetahuan pemilik melalui slip penarikan kosong yang sudah ditandatangani nasabah.

9. Konspirasi kecurangan investasi/deposito senilai Rp 111 miliar untuk kepentingan pribadi Kepala Cabang Bank Mega Jababeka dan Direktur Keuangan PT Elnusa Tbk.(*)

Editor : ribut

Sumber : Kompas.com

Berdasarkan pemaparan berita diatas, sebagai mahasiwa yang sedang menempuh auditing, lakukan analisa kritis dan jawablah pertanyaan diskusi berikut:

  1. Menurut saudara siapa yang seharusnya paling bertanggung jawab terhadap pelaksanaan internal control bank? Apakah pihak bank, Bank Indonesia atau kedua-duanya? Jelaskan.
  2. Pengendalian internal apa saja yang telah dilanggar oleh bank tersebut diatas? dan apa yang menjadi motivasi terjadinya pelanggaran? Jelaskan
  3. Menurut saudara mengapa kasus-kasus bank ini akhir-akhir ini mencuat ke permukaan?

Silahkan post jawaban saudara di halaman in melalui menu “Leave a comment”, paling lambat tanggal 8 Juni 2011.

 

About yuniartihidayah

Monash University, Australia, PPAK UB Interests: Listening to music, reading, traveling, eating delicious food, and networking

Discussion

13 thoughts on “Case Study D3-Bank: Kasus Pembobolan Bank

  1. 1. Menurut saya, yang seharusnya paling bertanggung jawab terhadap pelaksanaan internal control bank adalah pihak bank dan Bank Indonesia. Yang menjalankan internal control bank adalah masing-masing bank itu sendiri, apabila terjadi banyak kecurangan (fraud) ataupun penyimpangan yang terjadi di dalam bank tersebut, maka bank tersebut harus bertanggung jawab atas internal control bank yang berjalan kurang baik. Selain itu, Bank Indonesia juga harus juga harus bertanggung jawab dengan maraknya kasus pembobolan atau kecurangan yang terjadi di dalam Bank di Indonesia, karena Bank Indonesia sebagai kiblat berbagai di Indonesia. Bank Indonesia diibaratkan sebagai induk bagi semua bank yang ada di Indonesia. Jadi sebagai induk semua bank di Indonesia, Bank Indonesia harus lebih “memperhatikan” masing-masing bank khususnya mengenai internal control bank diterapkan pada masing-masing bank, apakah selama ini berjalan dengan baik dan sudah memenuhi prosedur atau tidak.
    2. Pengendalian Intern Bank terdiri dari lima elemen utama yang satu sama lain saling berkaitan, yaitu Pengawasan oleh Manajemen dan Kultur Pengendalian (Management Oversight and Control Culture), Identifikasi dan Penilaian Risiko (Risk Recognition and Assessment), Kegiatan Pengendalian dan Pemisahan Fungsi (Control Activities and Segregation of Duties), Sistem Akuntansi, Informasi dan Komunikasi (Accountancy, Information and Communication), serta Kegiatan Pemantauan dan Tindakan Koreksi Penyimpangan/Kelemahan (Monitoring Activities and Correcting Deficiencies). Dari lima elemen utama pengendalian intern bank yang ada, semua elemen inilah yang dilanggar oleh bank dalam 9 kasus yang ada di atas. Ada 3 hal yang mendorong terjadinya sebuah upaya kecurangan (fraud), yaitu pressure (dorongan), opportunity (peluang), dan rationalization (rasionalisasi). Dari 9 kasus pembobolan yang ada, banyak sekali variasi motivasi terjadinya pembobolan dalam setiap kasus. Contohnya untuk kasus Pembobolan uang nasabah prioritas Citibank Landmark senilai Rp 16,63 miliar yang dilakukan senior relationship manager (RM) bank tersebut. Inong Malinda Dee, selaku RM, menarik dana nasabah tanpa sepengetahuan pemilik melalui slip penarikan kosong yang sudah ditandatangani nasabah, umtuk kasus ini yang memotivasi terjadinya pembobolan karena adanya opportunity dan rationalization.
    3. Menurut saya, mencuatnya kasus pembobolan pada berbagai bank di Indonesia dalam kuartal I tahun 2011 karena beberapa factor, yakni : pengawasan oleh pihak berwajib yang semakin baik , adanya pihak yang merasa dirugikan sehingga adanya pelaporan kepada pihak yang berwajib, adanya strategi oleh pemerintah untuk pengalihan kasus yang terjadi dengan menguak kasus yang baru, dan timbulnya kesadaran dari salah satu pihak.

    Posted by Novi Alhayati (09530006) | June 5, 2011, 12:30 pm
  2. 1. Dari 9 kasus diatas faktor yang menyebabkan terjadinya pembobolan dana yaitu internal audit yang tidak berjalan baik. bicara tentang siapa yag lebih bertanggung jawab terhadap pelaksanaan internal audit apakah pihak bank atau bank indonesia, keduanya sangatlah wajib bertanggung jawab terhadap pelaksanaan internal audit. dari pihak bank sendiri internal audit harus berjalan sesuai dengan SOP yang ada dalam organisasi tersebut dan yang paling penting dari pihak bank adalah mengawasi para pegawai atau kryawannya untuk senantiasa menjalankan dengan baik SOP yang ada. dalam kasus penggelapan (fraud) yang belakangan terjadi ini dari pihak bank modus yang yang dilakukan adalah mengabaikan SOP mereka tidak melanggar SOP yang ada tetapi mengabaikan, dengan mereka mengabaikan SOP yang ada. ketidak disiplinan dalam menjalankan SOP ini menyebabkan kasus fraud dan tentunya kerugian yang mencapai miliaran rupiah terhadap bank, dan yang pasti akibat dari mereka tidak disiplin dalam menjalankan prosedur SOP ini selain kerugian yang diderita tentu saja citra nama baik bank yang akan berubah buruk dan juga kepercayaan orang terhadap bank tersebut akan berkurang akibat kasus tersebut. sedangkan dari pihak Bank Indonesia sebagai regulator dari sekuruh bank yang ada di Indonesia ini bank indonesia juga mempunyai tanggung jawab yang besar tergadap bank-bank yang ada dibawah bank indonesia, mungkin bank indonesia tidak bisa setiap hari dalam mengawasi bank-bank yang lain tetapi dengan adanya prosedur SOP yang lebih ketat dan lebih baik akan membantu untuk setidaknya mengantisipasi terjadinya fraud (kecurangan. tetapi sebaik-baiknya prosedur SOP dari npihak bank indonesia jika tidak ada kesadaran untuk tidak berbuat curang dari para pelaku perbankan, maka sia-sia juga prosedur tersebut. intinya jika SDM perbankan sendiri bisa lebih komimen dengan prosedur SOP yang ada maka kecurangan (fraud) tidak akan terjadi dalam dunia perbankan.
    2. dalam sembilan kasus diatas pelanggaran internal yang terjadi adalah mereka telah mengabaikan prosedur SOP yang telah ada, dalam artian mereka tidak melanggar SOP tetapi mengabaikan SOP. dalam pengendalian intern terdapat lima elemen utama yang satu sama lain saling berkaitan yaitu Pengawasan oleh Manajemen dan Kultur Pengendalian (Management Oversight and Control Culture),Identifikasi dan Penilaian Risiko (Risk Recognition and Assessment), Kegiatan Pengendalian dan Pemisahan Fungsi (Control Activities and Segregation of Duties), Sistem Akuntansi,Informasi dan Komunikasi (Accountancy, Information and
    Communication), serta Kegiatan Pemantauan dan Tindakan Koreksi
    Penyimpangan/Kelemahan (Monitoring Activities and Correcting
    Deficiencies). pada kelima elemen utama pengawasan internal ini mereka tidak menjalankan dengan baik atau tidak langsung mengabaikan sistem pengendalian internal, jika salah satu dari lima elemen tersebut tidak dijalankan dengan baik maka internal audit yang sesuai dengan SOP oun tidak bisa berjalan dengan baik.dan juga didukung oleh segitiga fraud (kecurangan) yaitu pressure(tekanan), opportunity(kesempatan), rationalisasi(pembenaran), dengan mereka mengabaikan kelima sistem pengendalian internal tersebut dan juga didukung oleh segitiga fraud tadi maka mereka dengan mulus bisa mealkukan kecurangan dengan lancar.
    3.kenapa kasus-kasus diatas mencuat ke publik adalah ketidak puasan dari salah satu pihak yang merasa dirugikan dari kejadian tersebut, pengawasan dari pihak eksternal atau internal auditor yang ada. dan juga pengawasan dari Bank Indonesia yang menemukan kejanggalan dari kinerja suatu bank.

    Posted by MIA YULI NUR AINI (09530009) | June 6, 2011, 9:17 am
  3. 1. Menurut saya yang seharusnya bertanggung jawab terhadap pelaksanaan internal control bank adalah pihak bank karena kasus- kasus perbankan yang banyak mencuat akhir-akhir ini bukan hanya diakibatkan oleh krisis ekonomi, tetapi juga diakibatkan oleh belum dilaksanakannya good corporate governance dan etika yang melandasinya. Oleh karena itu, usaha mengembalikan kepercayaan kepada dunia perbankan Indonesia melalui restrukturisasi dan rekapitalisasi hanya dapat mempunyai dampak jangka panjang dan mendasar apabila disertai tiga tindakan penting lain yaitu : (i) Ketaatan terhadap prinsip kehati-hatian; (ii) Pelaksanaan good corporate governance; dan (iii) Pengawasan yang efektif dari Otoritas

    2. dalam pengendalian intern terdapat lima elemen utama yang satu sama lain saling berkaitan yaitu Pengawasan oleh Manajemen dan Kultur Pengendalian (Management Oversight and Control Culture),Identifikasi dan Penilaian Risiko (Risk Recognition and Assessment), Kegiatan Pengendalian dan Pemisahan Fungsi (Control Activities and Segregation of Duties), Sistem Akuntansi,Informasi dan Komunikasi (Accountancy, Information and Communication), serta Kegiatan Pemantauan dan Tindakan Koreksi
    Motivasi yang menyebabkan terjadinya pelanggaran Not everyone is honest, sebuah fakta yang menyedihkan. Pada kondisi integritas yang rendah, kontrol yang lemah, akuntabilitas yang rendah, dan tekanan yang tinggi, peluang seseorang menjadi tidak jujur akan makin besar. Dan, bank-bank kita saat ini dihadapkan pada dua pilihan sederhana: menciptakan lingkungan dengan potensi fraud yang rendah (low fraud environment) atau menyusul bobolnya bank-bank terdahulu.
    Low fraud environment bisa diciptakan dengan adanya dukungan dari budaya kejujuran yang tinggi, keterbukaan, dan program khusus bantuan kepada personel. Untuk menciptakan dukungan tersebut, paling tidak, bank harus mempekerjakan orang-orang yang jujur dan selalu memberikan pelatihan kepada mereka mengenai kesadaran akan fraud, menciptakan lingkungan kerja yang positif, membuat dan melakukan diseminasi atas kode perilaku yang gampang dimengerti, serta membuat program bantuan kepada para personel.
    Berdasarkan teori fraud triangle (segitiga kecurangan), tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi yang datang secara bersamaan akan memperbesar peluang terjadinya fraud. Tapi, jika salah satu saja dari elemen segitiga tersebut hilang, fraud tidak akan terjadi. Pada sisi bank, menghilangkan kesempatan terjadinya fraud adalah yang paling mungkin ditindaklanjuti.

    3. kasus-kasus bank ini akhir-akhir ini mencuat ke permukaan karena adanya pihak yang merasa dirugikan atas terjadinya penyimpangan ini baik itu dari pihak bank maupun nasabah itu sendiri, sehingga adanya kesadaran dari salah satu pihak untuk mengungkapkan kekeliruan yang terjadi

    Posted by ratih kumalasari (09530010) | June 6, 2011, 10:35 am
  4. 1. Menurut saya untuk pihak yang paling bertanggung jawab adalah Kedua-duanya yaitu pihak internal bank dan Bank Indonesia. Karena Bank Indonesia itu sebagai pihak yang juga mengawasi apa-apa yang di lakukan oleh si audit internal dari masing-masing bank tersebut dan Pihak bank sendiri sebagai pengawas internal yang menjalankan tugas untuk melakukan apa-apa yang telah ditentukan oleh BI.Dilihat dari kasus tersebut ada beberapa kemungkinan. yang pertama adalah internal audit tidak begitu memahami SOP nya, yang kedua kualitas SDM yang kurang memadai. Padahal untuk SDM dari internal audit tidak harus dari pihak akuntan melainkan mereka yang mempunyai kualifikasi yang telah mengikuti pelatihan khusus dan memilikimpengetahuan serta pengalaman lain tentang operasi perusahaan. dan untuk masalah SDM yang kurang berkualitas perlu di ingat bahwa menempatkan seseorang pada posisi yang salah dapat memperkeruh perusahaan. Sebenarnya untuk kegiatan seorang audit internal itu adalah terfokus pada kegiatan evaluasi terhadap aktifitas dari setiap bagian dalam perusahaan.
    BI juga melakukan pengawasan pada bank-bank untuk m,engetahui apakah pihak bank sudah menjalankan usahanya sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan atau tidak.
    2.Di dalam pengendalian internal bank terdapat Lima elemen utama yang berhubungan satu sama lainnya yaitu,pengawasan oleh manajemen dan kultur pengendalian, identifikasi dan penilaian risiko, kegiatan pengendalian dan pemisahan fungsi, sistem akuntansi, informasi dan komunikasi dan juga kegiatan pemantauan dan tindakan koreksi penyimpangan/ kelemahan. Dari kelima unsur tersebut tidak dilakukan dengan baik, sehingga menyebabkan berbagai permasalahan yang tak terbendung lagi. Ada 3 hal yang mendorong seseorang untuk melakukan pelanggaran yang terdapat pada segitiga fraud yaitu dorongan, kesempatan,rasionalisasi. Jika ketiganya terjadi maka pelanggaran akan dilakukan terus menerus, sehingga jika salah satu unsur tersebut hilang maka fraud itu tidak akan terjadi, karena masih bisa ditindak lanjuti.
    3.Banyak kasus-kasus bank yang mencuat ke multimedia adalah karena adanya komplain dari nasabah yang merasa dirugikan, adanya temuan atau hasil audit yang tidak wajar, mencari sensasi dengan memunculkan kasus baru, agar diketahui masyarakat bahwa bank itu masih ada. (Mungkin juga bank yang pamornya tidak terkenal di masyarakat)

    Posted by Aning Nur R.N (09530005) D3 Perbankan Syariah | June 6, 2011, 4:04 pm
  5. 1. Pelaksanaan internal control bank menjadi tanggung jawab pengurus dan para pejabat Bank yang kemudian di bantu oleh BI, karena yang menjalankan kinerja perbankan dalam suatu bank adalah para pengurus dan pejabat bank itu sendiri, dan bila ada masalah yang mungkin tidak bisa diselesaikan sendiri, akan di bantu oleh bank induk (BI). Para nasabah hanya menitipkan / menabungkan uangnya saja, selebihnya yang mengurus adalah pihak bank. Jadi yang bertanggung jawab penuh adalah para pengurus dan pejabat bank.
    2. Dari 9 kasus yang tersebut di atas terdapat banyak pelanggaran seperti kecurangan, pelanggaran aspek kehati-hatian, ketidak patuhan akan peraturan yang berlaku, dll. Hal ini disebabkan karena lemahnya Sistem Pengendalian Intern Bank. Padahal Pengendalian Intern Bank ini sangat penting bagi Bank guna: menjaga dan mengamankan harta kekayaan Bank; menjamin tersedianya laporan yang lebih akurat; meningkatkan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku; mengurangi dampak keuangan/kerugian, penyimpangan termasuk kacurangan/fraud, dan pelanggaran aspek kehati-hatian; meningkatkan efektifitas organisasi dan meningkatkan efisiensi biaya. Motivasi dari tindak pelanggaran yang dilakukan juga mempunyai banyak faktor, misal kecurangan/fraud dapat terjadi karena adanya 3 faktor yaitu: Tekanan (Unshareable pressure/ incentive), Adanya kesempatan / peluang (Perceived Opportunity), Rasionalisasi (Rationalization).
    3. Menurut saya, mencuatnya kasus-kasus pada bank akhir-akhir ini banyak terjadi karena pihak-pihak yang dirugikan mulai merasakan dampak dari tindak kejahatan tersebut. Jika 1 kasus sudah terbongkar, maka kasus-kasus lain pun dengan sendirinya juga akan ikut terbongkar. Sedalam apapun mereka (para pelaku) menyembunyikan bangkai, pasti baunya tercium juga, sama halnya dengan pribahasa sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga.

    Posted by ERIS NANDA MUFARIKHA (09530002) | June 7, 2011, 2:41 am
  6. 1. Pelaksanaan Internal Bank menjadi tanggung jawab pihak bank itu sendiri dan juga pihak BI. Karena apabila terjadi penyimpangan pada suatu bank,pasti bank tersebut sendiri yang akan dirugikan. Oleh karena itu,agar tidak terjadi kerugian atau penyimpangan bank yang bersangkutan harus melaksanakan internal control yang baik. Selain itu, pihak BI juga harus meningkatkan peraturan yang ketat mengenai internal control tiap bank. Karena BI merupakan pusat semua bank. Misalnya dengan sedikit mengevaluasi SOP agar lebih diperketat.
    2. Dalam pengendalian internal bank terdapat 5 elemen utama, yaitu : Pengawasan oleh manajemen dan kultur pengendalian, Identifikasi dan Pengendalian Risiko, Kegiatan Pengendalian dan Pemisahan Fungsi, Sistem Akuntansi, Informasi, dan Komunikasi, serta Kegiatan Pemantauan dan Tindakan Koreksi. Elemen-elemen ini yang telah dilanggar oleh bank yang bersangkutan. Sehngga seperti tidak adanya tindakan sesuai SOP.
    Motivasi yang mendorong terjadinya kasus bank tersebut yaitu segitiga fraud : pressure ( tekanan ), opportunity ( kesempatan ), dan rationalisasi. Motivasi-motivasi yang ada membuat pembobolan itu terjadi.
    3. Mencuatnya kasus ini ke permukaan karena banyaknya komplain dari para korban-korban yang merasa dirugikan atas kasus-kasus tersebut.

    Posted by ANISA LUTHFIANA ( 09530003 ) | June 7, 2011, 8:46 am
  7. 1) menurut saya yang wajib bertanggung jawab penting ialah “pimpinan dan badan bank itu sendiri” karena mereka yang paham atas sesuatu yang terjadi di didalam bank itu sendiri,selain itu kurangnya kontrol dari BI sangat berpengaruh terhadap sesuatu yang banyak terjadi belakangan ini, karenya dapat kita pahami BI adalah badan yang sangat berperan penting dalam pengawasan bank-bank yang ada di Indonesia. jadi kesimpulannya dua badan inilah yang berperan penti dalam pengontrolan internal bank, bank itu sendiri berperan sebagai pengawas dan mengotrol SDMnya, sedangkan BI sendri berperan sebagai pengontrol apakah bank terserbut menyimpang dari peraturan yang dibuatnya (Bank Indonesia)
    2) dari wacana di atas dapat disimpulkan hal-hal yang dilanggar itu ialah 5 elemen penting dalam organisasi yaitu: Pengawasan dan kultur pengendalian, Identifikasi dan Pengendalian Risiko, Kegiatan Pengendalian dan Pemisahan Fungsi, Sistem Akuntansi, Informasi, dan Komunikasi, serta Kegiatan Pemantauan dan Tindakan Koreksi. inilah elemen yang berperan penting dalam perkembangan dan kemajuan suatu organisasi, apabila salah satu saja elemen diatas di langgar maka yang terjadi ialah timbulnya ketidak sehatan lembaga tersebut, sehingga hal-hal yang negativ dapat terjadi. biasanya hal-hal negativ ini terjadi karena adanya faktor kepentingan pribadi dan terdapatnya kesempatan.
    3) menurut saya kenapa akhir-akhir ini banyak munculnya masalah perbankan, hal ini tidak lepas dari permainan politik.

    Posted by ABRA FRISALDI ARRIZAL ( 09530004 ) | June 7, 2011, 12:00 pm
  8. 1.dari semua kasus yang telah terjadi, menurut saya yang paling bertanggung jawab terhadap pelaksanaan internal kontrol bank adalah kedua belah pihak yaitu bank indonesia dan pihak internal bank. pihak internal bank adalah audit internal dan semua pihak yang menjalankan kegiatan di bank tersebut. bisa jadi pihak internal bank sudah menjalankan semua prosedur tentang pengawasan yang ada tetapi para staf bank yang tidak memberikan data dengan sebenarnya dan menutup-nutupi kesalahan atau perilaku yang menyimpang. sehingga pihak auditor kesulitan untuk mengawasi. walapun staf bank tlah mengetahui dan memahami SOP dengan benar tetapi jika tidak dilaksanakan dalam menjalankan tugasnya maka SOP tersebut akan sia-sia. untuk menghindari terjadinya kecurangan (fraud) maka yang pertama harus di tanamkan adalah kejujuran dan rasa bertanggungjawab sehingga SOP tersebut bisa benar-benar diterapkan. jika kedua nya telah diterapkan maka semua kasus penyelewengan tanggungjawab dan kasus-kasus yang dapat mengurangi kepercayaan nasabah dapat diminimalisir. dari sisi Bank Indonesia adalah pihak bank indonesia terlalu lamban menjalankan pengawasan dari kasus-kasu yang ada semua terkuak dari pengakuan para nasabah, pihak bank indonesia baru bertindak ketika tlah banyak terdapat pengaduan dari pihak nasabah. setelah itu kasus yang terkuak tidak terselesaikan secara gamblang dan tidak ada pernyataan bank indonesia yang dapat memuaskan nasabah serta membuat nasabah kembali mempercayai pihak perbankan yang telah trlibat kasus.
    2. Pengendalian Intern Bank terdiri dari lima elemen yaitu Lingkungan Pengendalian (Control Environment), Penilaian Resiko (Risk Assesment), Prosedur Pengendalian (Control Procedure), Pemantauan (Monitoring), serta Informasi dan Komunikasi (Information and Communication).dari sembilan kasus diatas dapat dilihat bahwa staf bank telah melanggar 5 element penting pengawasan internal bank. kurangnya pengawasan dan pemantauan dari puhak audit internal dan pihak bank indonesia juga bisa menimbulakan terjadinya pelanggaran dalam suatu perbankan. jadi jika satu elemn tersebut hilang atau tidak dilaksanakan maka pelanggaran dan penyelewengan dalam suatu perbankan kemungkinan besar akan terjadi. ditambah lagi tidak tertanamnya sifat kejujuran dan bertanggungjawab pada diri staf perbankan yang bekerja.
    motivasi terjadinya pelanggaran dalam perbankan adalah ressure ( tekanan ), opportunity ( kesempatan ), dan rationalisasi yang datang secara bersamaan ( dapat dilihat dalam segitiga fraud). jika ketiga mativasi tersebut bisa ditekan maka kecurangan pun dapat dihilangkan.
    3. Mencuatnya kasus ini ke permukaan dapat disebabkan adanya nasabah yang mengetahui adanya kecurangan dan adanya nasabah yang kehilangan dana tanpa alasan yang tepat sehingga nasabah tersebut melaporkan kepada pihak yang berwajib agar terdapat kejelasan tentang dana yang hilang. karena mencuatnya satu kasus maka pihak audit bank dan bank indonesia pun melakukan pengawasan yang lebih ketat kepada bank-bank lain sehingga kasus-kasus yang lain pun terkuak.

    Posted by zulfa ulinnuha (09530001) perbankan syariah | June 7, 2011, 12:20 pm
  9. 1.yang seharusnya paling bertanggung jawab terhadap pelaksanaan internal control bank adalah pihak bank itu sendiri dan bank BI.pihak bank dan bank BI tidak menciptakan k Kontrol internal yang bagus, paling tidak,pihak bank harus mencakup kontrol lingkungan yang bagus, sistem akuntansi yang bagus, dan kontrol prosedur (aktivitas) yang juga bagus. Becermin dari sebuah pernyataan Committee of Sponsoring Organization (COSO): the control environment sets the tone of the organization, and is largely responsible for employees being conscious (and therefore vigilant) about controls.
    2Pengendalian internal yang telah dilanggar oleh bank adalah mengabaikan kontrol internal,di antaranya aitu Pengawasan oleh Manajemen dan Kultur Pengendalian (Management Oversight and Control Culture), Identifikasi dan Penilaian Risiko (Risk Recognition and Assessment), Kegiatan Pengendalian dan Pemisahan Fungsi (Control Activities and Segregation of Duties), Sistem Akuntansi, Informasi dan Komunikasi (Accountancy, Information and Communication), serta Kegiatan Pemantauan dan Tindakan Koreksi Penyimpangan/Kelemahan (Monitoring Activities and Correcting Deficiencies).motivasi yang mendorong terjadinya sebuah upaya kecurangan (fraud), yaitu pressure (dorongan), opportunity (peluang), dan rationalization (rasionalisasi).
    3.kasus-kasus bank ini akhir-akhir ini mencuat ke permukaan karena banyaknya pengaduan-pengaduan nasabah,dah perbaikan pngawasan,

    Posted by ficka desty w (09530012) | June 7, 2011, 2:24 pm
  10. 1. Dari kasus-kasus di atas pihak yang seharusnya lebih bertanggung jawab adalah pihak bank itu sendiri. Karena pihak banklah yang lebih sering berinteraksi dengan nasabah dan menjalankan kegiatan operasional sehari-hari yang berhubungan dengan transaksi keuangan. Kejahatan perbankan ini disebabkan beberapa factor yang ada dalam bank itu sendiri meskipun Bank Indonesia telah melakukan pengawasan dengan semaksimal mungkin. faktor penyebab terjadinya fraud itu sendiri adalah adanya berbagai kelemahan dalam pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern Bank antara lain:
    a. kurangnya mekanisme pengawasan, tidak jelasnya akuntabilitas dari pengurus Bank dan kegagalan dalam mengembangkan budaya pengendalian intern pada seluruh jenjang organisasi;
    b. kurang memadainya pelaksanaan identifikasi dan penilaian atas risiko dari kegiatan operasional Bank;
    c. tidak ada atau gagalnya suatu pengendalian pokok terhadap kegiatan operasional Bank, seperti pemisahan fungsi, otorisasi, verifikasi dan kaji ulang atas risk exposure dan kinerja Bank;
    d. kurangnya komunikasi dan informasi antar jenjang dalam organisasi Bank, khususnya informasi di tingkat pengambil keputusan tentang penurunan kualitas risk exposure dan penerapan tindakan perbaikan;
    e. kurang memadai atau kurang efektifnya program audit intern dan kegiatan pemantauan lainnya;
    f. kurangnya komitmen manajemen Bank untuk melakukan proses pengendalian intern dan menerapkan sanksi yang tegas terhadap pelanggaran ketentuan yang berlaku, kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan Bank.
    2. Melihat kasus di atas pengendalian internal yang telah dilanggar adalah Kegiatan Pengendalian dan Pemisahan Fungsi (Control Activities and Segregation of Duties), Sistem Akuntansi, Informasi dan Komunikasi (Accountancy, Information and Communication). Kegiatan pengendalian mencakup penetapan kebijakan dan prosedur pengendalian serta proses verifikasi lebih dini untuk memastikan bahwa kebijakan dan prosedur tersebut secara konsisten dipatuhi, serta merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari setiap fungsi. Kegiatan pengendalian tersebut akan dapat membantu Direksi termasuk Komisaris Bank dalam mengelola dan mengendalikan risiko yang dapat mempengaruhi kinerja atau mengakibatkan kerugian Bank atau kegiatan Bank sehari-hari. Sistem akuntansi, informasi dan komunikasi yang memadai dimaksudkan agar dapat mengidentifikasi masalah yang mungkin timbul dan digunakan sebagai sarana tukar menukar informasi dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing. Bank sekurang-kurangnya memiliki dan memelihara system informasi manajemen yang diselenggarakan, baik dalam bentuk elektronik maupun bukan elektronik. Mengingat bahwa sistem informasi elektronik dan penggunaan teknologi informasi tersebut mempunyai dampak risiko maka Bank harus mengendalikannya secara efektif guna menghindari adanya gangguan usaha dan kemungkinan timbulnya kerugian Bank yang signifikan.
    Sementara mengenai motivation, menurutnya, tekanan motivasi untuk melakukan fraud bisa terjadi karena adanya keterkaitan emosional oknum bank terhadap instansinya bekerja. Misalnya ada rasa iri, cemburu, ingin balas dendam, dan gengsi, karena pelaku mempunyai kebutuhan atau masalah financial, suatu pembenaran atas tindakan kejahatan yang dilakukan misalnya:
    1. Bahwasanya tindakan pelaku untuk membahagiakan keluarga dan orang-orang yang dicintainya.
    2. Masa kerja pelaku cukup lama dan dia merasa seharusnya berhak mendapatkan lebih dari yang telah dia dapatkan sekarang (posisi, gaji, promosi, dll.)
    3. Perusahaan telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan tidak mengapa jika pelaku mengambil bagian sedikit dari keuntungan tersebut.
    3. Pada akhir-akhir ini banyak kasus-kasus yang mencuat kepermukaan dikarenakan untuk mengalihkan pandangan masyarakat terhadap kasus-kasus yang sering melanda di Negara ini, selain itu dimungkikan juga ada pihak yang tidak terima atau merasa dirugikan dengan keadaan ini dan akhirnya melaporkan kasus ini pada pihak yang berwajib._

    Posted by murni ambarwati (09530014) | June 8, 2011, 12:17 am
  11. 1. menurut saya, pihak yang paling bertanggung jawab atas pengendalian internal adalah kedua pihak dari bank itu sendiri juga BI. karena sebagai bank yang bersangkutan harus menjalankan tugasnya sebagai pelaksana audit internal, dan BI sebagai induk seluruh bank di Indonesia bertugas sebagai pengawas, artinya BI selalu mengawasi jalannya program audit internal dalam tiap-tiap bank di Indonesia. tetapi, bank yang bersangkutan juga harus menyediakan SDM yang memadai, sehingga dapat dipercaya dalam menjalankan tugas sebagai audit internal di samping itu juga senantiasa selalu mengawasi dan mengontrol berjalannya sistem bank itu sendiri, sehingga tidak terjadi kecurangan yang tidak diinginkan.
    2. pengendalian internal yang terdiri dari Lingkungan Pengendalian (Control Environment), Penilaian Resiko (Risk Assesment), Prosedur Pengendalian (Control Procedure), Pemantauan (Monitoring), serta Informasi dan Komunikasi (Information and Communication) telah banyak dilanggar oleh sebagian besar bank yang mengalami kasus pembobolan di atas. semua elemen pengendalian internal tersebut harus bersama-sama dijalankan semua, tidak bisa salah satu atau ada hal yang ditinggal dan tidak dikerjakan. jika ada yang tidak dikerjakan maka akan terjadi hal yang merugikan, contohnya saja pembobolan pada bank tersebut di atas. kemudian adanya motivasi yang mendasari pelaku melakukan pembobolan tersebut adalah berdasarkan teori kecurangan (fraud), yaitu pressure (dorongan), opportunity (peluang), dan rationalization (rasionalisasi).
    3. banyaknya kasus pembobolan yang mencuat pada akhir-akhir ini banyak disebabkan oleh laporan nasabah tiap-tiap bank tersebut kepada pihak yang berwajib.

    Posted by NUR LAILATUS SA'DIYAH (09530008) | June 8, 2011, 7:51 am
  12. 1.Menurut saya yang bertanggung jawab erhadap pelaksanaan internal control bank adalah pihak bank itu sendiri dan Bank Indonesia sebagai regulator bank bank di indonesia yang tugas nya di atur berdasarkan UU 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana revisi terakhir dalam UU 6 Tahun 2009 menegaskan bahwa tujuan berdirinya Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, Bank Indonesia mempunyai tugas sebagai berikut :

    a. menetapkan dan melaksanakan kebijaksanaan moneter.
    b. mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.
    c. mengatur dan mengawasi Bank.
    Dalam hal penanganan kasus BI harus lebih meningkat kan pengontrolan agar tidak terjadi kasus yang sama.

    2. Pengendalian Intern Bank terdiri dari lima elemen yaitu:
    a.Lingkungan Pengendalian (Control Environment)
    b.Penilaian Resiko (Risk Assesment)
    c.Prosedur Pengendalian (Control Procedure)
    d.Pemantauan (Monitoring)
    e.Informasi dan Komunikasi (Information and Communication).
    Dari kasus kasus diatas dapat dilihat bahwa bank telah melanggar 5 element penting pengawasan internal bank yang di akibat nya kurangnya pengawasan dari bank indonesia yang dapat menimbulakan kecurangan ( fraud).

    Motivasi terjadinya pelanggaran dalam perbankan adalah :
    a.ressure ( tekanan )
    b.opportunity ( kesempatan )
    c.rationalisasi yang datang secara bersamaan ( dapat dilihat dalam segitiga fraud).
    Apabila ketiga nya dapat dikendalikan maka tingkat kecurangan pun dapat dikendalikan.

    3.Marak dan sering nya kasus kasus bank yang ada ditanah air ini adalah merupakan sebuah prestasi auditor yang mampu menungkap kan kasus tersebut ke permukaan,sebuah prestasi yang harus terus diperbaiki demi maju nya perbankan kedepan nya.

    wassalam.

    Posted by Yudha Deswantyastama (09530007) | June 8, 2011, 9:46 am
  13. 1. Menurut saya yang paling bertanggung jawab atas internal control adalah pihak bank itu sendiri, sedangkan bank Indonesia merupakan eksternal control bukanlah internal control. Internal control merupakan suatu mekanisme pengawasan yang ditetapkan oleh manajemen bank secara kesinambungan, dapat kita lihat dari pengertian internal control itu sendiri bahwa yang bisa melakukan internal control ini adalah manajemen bank itu sendiri dan secara kesinambungan. Ketika BI menjadi internal control maka internal control itu tidak akan berjalan secara kesinambungan karena tugas BI adalah mengawasi kinerja seluruh bank yang ada di Indonesia, maka BI tidak akan sanggup melakukan internal control secara kesinambungan. Pada definisi lain mengatakan bahwa pengendalian intern itu meliputi struktur organisasi dan semua cara-cara serta alat-alat yang dikordinasikan yang digunakan didalam perusahaan dengan tujuan untuk menjaga keamanan harta milik perusahaan, memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi, memajukan efisiensi didalam operasi dan membantu menjaga dipatuhinya kebijakan managemen yang telah ditetapkan lebih dahulu. Dapat dianalisis bahwa tugas sepenuhnya untuk melakukan internal control adalah bank itu sendiri dan internal control itu merupakan salah satu system yang diterapkan di bank itu sendiri. Serta pihak-pihak yang bisa melakukan internal control adalah dewan komisaris, direksi, SKAI, pejabat dan pegawai bank.
    2. Pengendalian yang telah dilanggar adalah pengendalian system informasi, selanjutnya adalah pengendalian kinerja operasional bank, serta dokumentasi. Motivasi yang mendasari mereka melakukan itu adalah fraud, di dalam fraud ini terdapat pressure yang menjadikan para tersangka ini tertekan dengan keadaan yang ada, tekanan ini baik dalam bentuk posisi nyaman alias posisi tertinggi dalam jabatan, maupun tekanan yang ditimbulkan oleh keluarga maupun kepentingan pribadi sendiri. Setelah adanya pressure maka adanya oppurtunity yang menjadikan kesempatan yang ada tidak disia-siakan oleh tersangka tersebut. Kesempatan ini baik dalam bentuk wewenang jabatan maupun kesempatan untuk memutar balikan keadaan yang ada. Setelah itu disusul dengan adanya rationalization atau rasionalisasi, rasionalisasi ini yang menjadikan halal bagi semua yang mereka inginkan. Rasionalisasi ini dalam bentuk pewujudan tekanan dan kesempatan yang ada.
    3. Kasus-kasus bank ini akhir-akhir ini mencuat ke permukaan disebabkan oleh beberapa hal,yakni:
    • Banyak pihak yang merasa dirugikan dan diperlakukan tidak adil atas kecurangan yang ada, maka para pihak itu berusaha untuk menyusut kejadian-kejadian yang ganjal tersebut ke permukaan.
    • Pihak internal audit setiap bank khususnya, berani unjuk gigi untuk kasus yang telah terjadi di banknya tersebut karena selama ini mereka tidak mempunyai keberanian untuk menguak ke permukaan setelah adanya kasus-kasus yang menguak maka pihak internal audit berani melakukanya. Selain itu pihak internal audit bank sendiri lebih teliti dan hati-hati dalam memeriksa maka kasus yang terdahulu dapat di investigasi kembali.
    • Banyak SDM yang mempunyai kemampuan dalam bidang internal audit maka para pihak bank menyewa untuk memeriksa kinerja bank yang ada.
    • Adanya kerja sama antara pihak berwajib dengan para pejabat bank untuk mengusut semua kasus yang ada.
    • Semakin kritisnya dan berani nasabah bank yang melaporkan kasus ke pihak berwajib.

    Posted by elok faiqoh_09530011_D3 PERBANKAN | June 8, 2011, 11:02 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: